makna makna

|

Kalau diproyeksikan sebagai sebuah nama, kiranya, beberapa pendengaran akan sepakat menyandangkannya pada sewujud Perempuan. Di mana sejak alisnya, matanya, bibir sampai pada ujung kaki, ketara jika setiap bagian dari dirinya tengah bersuara, tapi bukan karena menciptakan nada. Seperti halnya ceririt burung, dengung lebah, risik angin, guruh hujan serta halilintar, perempuan tersebut membunyikan bahasa murninya, bahasa ibu, bahasa karawitan. 

 

Dalam Relung, bahasa ibu terbangun secara genetik dan alami, menjadi bahasa paling dasar sebelum kemudian panca indranya mengenali bahasa bahasa lain. Bahasa tersebut, bahkan di luar kesadaran, kadung menjadi bahasa unggulannya. Melampaui pengetahuan mengenai perbendaharaan, ejaan, rima, intonasi serta irama, bahasa ini lahir, larut mengikuti darah, ikut bergerak seiring waktu bersamanya, diasuh oleh atmosfer dan media tumbuhnya, dibesarkan bunyi keseharian seperti; letup api tungku pawon, siul sriti, gerisik guguran pring tersapu musim kemarau, suluk pendalangan hingga romantisme campur sari.   

 

Kendati tidak serta merta mengarahkannya kepada spesifikasi tertentu, apakah etnik, tradisional, pop, alternatif, pembaharu, eksperimen bahkan klasik, tapi bukan berarti sulit mengidentifikasi watak bawaannya. Berkisar di atas pentatonik, nada dasar a mayor tampil sebagai teksturnya. Kehadirannya kontras. Terlihat jika sebagai perempuan berdimensi nusantara, betis di setiap tungkainya penuh, sehingga lampahnya pasti, tidak ada keragu raguan. Sedang dengan warna kulit kuning langsat, rambut hitam terang dan jelas, ritmenya sukar untuk disamakan. Slendro perangainya, muncul sebagai bentuk lembut, hati hati, bukan mengendalikan atau menguasai, melainkan pasrah, berserah diri pada kehendak maskulinitas instrumen drum, gitar elektrik, gitar akustik, bass, serta synth. Leresnya perempuan Jawa, keseluruhan gesturnya tenang, royal, sepersis denting gamelan. Tidak ada perlawan, tidak mengandung rontaan. Akan tetapi, sebagaimana bedhoyo, gemulai dan lenturnya mengalir menyentuh ke segala arah.

 

Tanpa berusaha menekankan jika pada setiap bunyinya terkandung arti serta tujuan, seperti saat membunyikan mocopat kidung dewaruci, "Curiga manjing warangka. Warangka manjing curiga", nan apabila dalam bahasa ibu George Satayana akan berbunyi, "nuestra dignidad reside, no en lo que hacemos, sino en lo que entendemos", utawi dalam boso inggris, "our dignity is not in what we do, but what we understand", mengenali jati diri, Relung sudah meyakini bahwa sekalipun tidak membangun sebuah kalimat, bunyi dari bahasa ibu sendiri sudah juga makna.   

 

Sehingga, "Amengku segara. Kalegan ing cahyaning sasongko", bayangkan, tersiram sinar purnama, di hadapan guruh ombak Parangkusumo, Segoro Kidul, sesosok perempuan bertimpuh dialasi pasir, selembar batik kampuh semen membalut raganya dan terbiarkan, terbiarkan gelung rambutnya pudar menirai punggung, dimain maruta. Demikianlah wajah relung. Itulah, bunyi Relung.  

 

salam
kembali ke atas

asal bunyi lainnya