Walaupun, pandangannya diharuskan turun, tegak gulu, tegap wajah, tetap dijaga, ketika di antara pangkal sepasang alisnya, dua bilah tangannya bertemu, untuk dibawa ke dada, bermukadima atas Dzat dalam lubuk manahnya. Ialah tanjak, sikapnya berdiri, dikarenakan bertabir tepian kainnya, telapak-telapak kaki membentuk selancip sudut dengan menyinggungkan kedua tumit. Sengaja memang, jari jari kaki dilentik-naikkan sehingga menthang bentuk itu dinamai, lebih lebih sejak sejajarnya nadi di pergelangan tangan kanan terhadap pusarnya, mengikuti. Persis tengah menjura telapak lainnya, disamping sudah juga menyiku lututnya, tinggi tubuh direndahkan. Mendak. Sesudahnya,... lengan kiri mengambang perlahan.
salam
kembali ke atas