mati lampu iii

|

Kalau saja bisa terlihat, Kasih, ngrujinya jentik driji itu. Pucuk ibu jari hingga pucuknya jari tengah, menguncup. Wajah pelan ke kanan, kaki kiri mengayuh ke belakang, samparan tertepis ujung telapak sampai sampai kulainya pindah ke sisi berlawanan. Selagi wajah menengok ke kiri, ujung kaki lainnya harus ganti menepis. Patuh ayun tubuhnya, terhadap kemana parasnya mencari. Kini, seturut mendaknya lutut, rentang lengan kiri merendah karena atas kulai samparan, ingin, jari jemarinya menyampaikan sentuhan, menjemput, meski seakan dadak terlarang, gerak itu akhirnya hanya sampai pada seolah olah. Tentu akan singkap, laku luwesnya kang saling tumpang kang saling silih, terpadu, pabila bukan seumpama tuna praba, mala ratri di kala mati lampu ini bertafsir. 


asal bunyi lainnya