sat

|

Pada saat Segoro Kidul sat, dunia tidak memperoleh penjelasan selain, layangnya seekor elang jantan. Pekik unggas pemburu tersebut sayati cawan segara. Di satu kepakan, sehelai wulu sayap kirinya tanggal. Bukan tergesa menyentuh gersang samudra, ringan wulu justru turun pelan, tertimang-timang, sebelum oleh tabiat bayu diambangkan kembali. Utara, muasalnya angin itu, dan tidak hambar. Lembut aroma kembang kenanga tersadur bersama. Sekali siur, harum laut menyisih, wangi ruaran garam, takluk. Wulu elang sudah pasti terbuai dimainkan kalau saja tidak lekas lekas daratan lejitkan sebuluh berpucuk runcing, nyaris gaib. Laiknya pamungkas, laku embus angin dikunci, merbak kenanga beku terkurung tudung tempiasannya. Rembulan kelir geni bersaksi, sedari pangkal hingga ujung, helai bulu elang terbelah dua, sama persis, untuk selanjutnya tergeletak bersisian di atas bukaan relungnya samudra. Harum kenanga pecah, tebarnya tidak kemana. Tergiring ke tepian, tersesap dada sengat sekam, remangi lekuk busur padas karang. Sedang lejit panah tadi? Terus. Laju, laju, kian dan kian ke selatan tersamar jerit elang. Sebagaimana bukan kencana, Kasih, tidak ada kilau emas terpendar. 


salam 

asal bunyi lainnya