Selama kiprah laut menimang lamun, wajah termangu disilir bayu. Batas ke batas, selatan demi selatan terlampaui, kini, tatapannya menyangsikan bila nun di seberang sana segoro kidul benar bertepian. Tidak kesudah pandangnya tersita, sauh dan lena. Denyut laut menjadi satu satunya tabuh dalam pengindraan sampai setepuk kecipuk terdengar mengetuk, menghilirkannya ke lain muara. Tidak jauh, Kasih. Dan lengang samudra sesungguhnya masih, namun oleh kuat percikan tadi, kesemuanya raib terambil angin, mengutara.
Baruna, Baruna. Dhuhai,
salam
kembali ke atas